Jan 29, 2015

Training Program

Training for Personal Transformation

    • Bagaimana membangun Team yang Dinamis (Bagian 1)

      Oleh :  Yumei Sulistyo Psi.MM.MNLP

      Bagaimana membangun Team yang Dinamis (Bagian 1) Tentu kita semua pernah melihat team sepak bola bertanding di lapangan hijau, bila kita melihat team sepak bola yang terdiri dari sebelas pemain itu, apa yang terpikir oleh kita?

      Kebanyakan kita membayangan kesebelasan kita keluar sebagai pemenang pada pertandingan itu atau mungkin juga kita senang menyaksikan permainan sepak bola kelas dunia yang berkualitas, fair tidak ada baku hantam ditengah lapangan, singkat kata pertandingan itu menyuguhkan tontonan yang enak dan mengasyikan dilihat, marilah sejenak kita lihat dari sisi yang lain belajar bagaimana arti sebuah team agar kita dapat membangun team yang efektif.

      Setiap kesebelasan sepak bola, terdiri dari  sebelas pemain dengan peran dan tugas masing-masing sebut saja ada penjaga gawang, ada penyerang tengah, pemain sayap, gelandang kiri dan kanan mereka ini menempati posisinya masing-masing sesuai dengan tugasnya dan kalau dilihat dalam permainan sepak bola, peluang terbesar untuk membobol gawang lawan terutama adalah penyerang tengah walaupun terbuka kemungkinan pemain belakang bisa juga membuat goal, namun pada umumnya pemain penyerang inilah yang mendapat penghargaan sebagai pencetak goal terbanyak, seperti pemain termahal dan terkaya didunia saat ini CR7 atau Christiano Ronaldo yang bahkan mendapat penghargaan bergengsi seperti Ballon D’or berturut-turut pada musim kompetisi saat ini, sebagai bukti kecemerlangannya dalam mencetak gol terbanyak hingga dihadiahi Bola Emas, pertanyaannya adalah, mengapa harus dia sendiri, padahal dia bisa mencetak goal juga karena kerja keras 10  pemain yang lain? Meskipun klub sepak bola itu mendapat nama, namun sepertinya dia adalah pemain terbaik diantara 10 pemain lainnya, seolah-olah 10 pemain lainnya hanya berjuang untuk kemashuran satu orang saja, Adilkan situasi seperti ini? Kalau terus seperti ini bukankah semua orang akan berebut untuk menjadi Pemain penyerang tengah seperti CR7, namun kenyataannya ini tidak terjadi, pemain yang lain menerima kenyataan ini apa adanya dan tetap bermain baik sebagaimana seharusnya.

      Contoh lain adalah Team Formula One, pernah melihat bagaimana ajang balapan mobil formula one yang sangat megah dan tontonan kelas dunia yang luar biasa hebatnya, dimana kemenangan kadang hanya ditentukan oleh waktu seper sekian detik, kecepatan adalah segalanya dengan dukungan team kerja yang handal dan teknologi tinggi bahkan menganti ban mobil dan mengisi bahan bakar secara bersamaan hanya dalam hitungan detik saat mobil formula masuk pit dan keluar lagi untuk melanjutkan balapan semua dilakukan kurang dari 10 detik saja, team ini jumlahnya besar dan terdiri dari orang-orang yang sangat kompeten dibidangnya,  sangat kompak dan cekatan, namun saat sang pembalap masuk finis terlebih dahulu dialah yang mendapat sanjungan, pujian dan penghargaan tertinggi, menjadi bintang iklan, mendapat bayaran yang super mahal, meskipun nama team juga terangkat, sementara anggota team formula one yang lain harus puas untuk bertepuk tangan dengan gembira, padahal sukses seorang pembalap juga ditentukan oleh puluhan anggota team dengan dukungan kerjasama yang sangat prima luarbiasa, pertanyaannya adalah adilkah kondisi seperti ini satu orang yang mendapat nama besar, pujian diatas kerja dan keringat orang lain?

      Ada contoh yang lebih ekstrem lagi tentang kondisi team kerja, pernahkan terpikir oleh kita, Coba bayangkan sebuah bangunan yang bernama piramida diMesir yang telah berdiri dengan begitu kokohnya hingga ribuan tahun, sejenak cobalah berpikir bagaimana Piramida yang sangat agung itu dibangun, bayangkan dikala itu ketika teknologi belumlah sehebat sekarang ini, bagaimana harus mengerahkan para pekerja yang jumlahnya ratusan ribu bergerak dalam satu team yang kompak untuk mewujudkan impian sang Fir’aun…banyak korban berjatuhan dalam proses pembangunannya, banyak pekerja yang mati karena kelelahan, kelaparan, mati dicambuk, disiksa, ribuan juga mungkin jumlahnya, pertanyaannya apakah untuk mewujudkan ambisi sang Fir’aun harus dengan perlakuan yang represif seperti ini?, menghasilkankan suatu karya diatas penderitan orang lain.

      Pada contoh pertama kesebelasan sepak bola, menggambarkan bagaimana segelintir orang mendapatkan kemungkinan lebih besar untuk memperoleh kemasyuran, dicontoh kedua Team Formula One, jelas hanya seorang yang bakal keluar sebagai bintang dan meraih ketenaran yaitu sang pembalap, sedangkan pada contoh terakhir membangun Piramida adalah memperoleh kemegahan diri diatas penderitaan orang lain, jadi Team seperti apakah yang kita inginkan sebenarnya?

      Pada tahap ini tentu anda sudah mulai melontarkan berbagai argument tentang ketiga contoh situasi team di atas, sabar dulu, simpan argumen anda, marilah sejenak kita bahas konsep sebuah  team dan melihat dari perspektif yang berbeda, dari contoh sebelumnya sebenarnya konsep team sudah ada sejak jaman dahulu kala, hingga kini yang namanya team ya tidak berubah, yang berubah dan berkembang adalah pengertian dan pemahaman kita tentang team itu sendiri, marilah kita telaah satu persatu.

  • Transformational Leadership With Fire Walk

    Firewalk bukan untuk gagah-gagahan bahwa manusia kuat melawan api, karena api adalah api zat yang bersifat membakar apa saja yang ada didalamnya, api adalah sahabat bila kita mampu mengendalikannya, mengarahkannya dan memanfaatkannya, dan sebaliknya api bisa menjadi musuh yang bisa membakar hutan dan merusak ekosistem.

    Pada training Transformational Leadership, Fire walk digunakan sebagai simulasi untuk Transformasi diri seperti mengendalikan rasa takut, mengatasi keragu-raguan, berani bertindak dan membuang kebiasaan menunda-nunda serta fokus pada tujuan, sehingga setelah menjalani fire walk seperti terlahir kembali menjadi manusia baru yang penuh percaya diri menghadapi segala tantangan dengan sikap positif untuk sukses mencapai tujuan.

    Pertanyaan yang sering diajukan apakah aman melakukan Fire walk?

    • Tidak aman bila dilakukan oleh trainer yang tidak bersertifikat dan tidak berpengalaman
    • Tidak aman bila digunakan kayu yang sembarangan, harus dipilih kayu khusus jenis tertentu yang tidak mengandung damar .
    • Tidak aman bila walking bed nya tidak dibuat dengan rumput dan standar ketebalan tertentu.
    • Tidak aman bila dilakukan tanpa mengindahkan SOP Standar  international

    Pengalaman kami melakukan FIRE WALK sangat aman, dengan tingkat safety yang tinggi,  sebelum dilakukan peserta mendapat Coaching yang berhubungan dengan personal Transformasi, bagaimana membuat tujuan yang sangat rasional dan emosional atau Well-Form Outcome (WFO), mengidentifikasi emosi negative yang ingin dihilangkan, memahami kekuatan pikiran dan membuat affirmasi positif, sehingga Fire wale ini benar-benar bebas sama sekali dari unsur magic, ilmu hitam, kuasa gelap dan sebagainya, murni kekuatan pikiran yang dimiliki oleh setiap orang, terlebih lagi sebagai seorang Transformational Leaders dibutuhkan mental yang kuat untuk mampu membawa perubahan bagi teamnya, namun semua perubahan harus di mulai dari diri sendiri sebelum selanjutnya menjadi ROLE MODEL.

     

    Objective Program :

    mengendalikan rasa takut, mengatasi keragu-raguan, berani bertindak dan membuang kebiasaan menunda-nunda serta fokus pada tujuan, sehingga terlahir kembali menjadi manusia baru yang penuh percaya diri menghadapi segala tantangan dengan sikap positif untuk sukses mencapai tujuan.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review
     
     
    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Transformational Leadership with mind power

    DasfaFKebanyakan orang merasa sudah paham dengan makna leadership, tidak salah karena leadership memang dapat dimaknai berbeda-beda bergantung pada tingkat pemahaman dan konteks dimana dia berada, persoalannya menjadi rumit ketika ditanyakan kenapa harus ada pemimpin ? jawabannya  beragam dan semua jawaban itu benar karena persepsi selalu benar menurut dirinya sendiri, dalam sesi workshop jawaban  yang paling sering muncul adalah karena ada yang harus dipimpin, karena supaya ada keteraturan, supaya ada kejelasan, supaya tidak terjadi chaos, karena tidak semuanya harus jadi pemimpin, karena harus ada yang berwenang memutuskan, karena harus ada satu suara yang memimpin, masih banyak lagi beragam jawaban… dan ingat sekali lagi semua jawaban ”benar” menurut persepsi yang menjawab.daFW

    Saat ini sudah ada banyak teori kepemimpinan bahkan setiap Center, Expert atau Schoolar memiliki rumusannya sendiri dan memberi nama atau istilah yang keren, namun saking banyaknya membuat orang bingung mana yang terbaik, ada istilah Trait Leadership, Three Dimensional
    Leadership, Leadership Style, Situational Leadership, Servant Leadership, Authentic Leadership, Autocratic Leadership, Democratic Leadership, Laissez faire Leadership, Charismatic Leadership, Transactional Leadership, Effective Leadership, Transformational Leadership dan masih banyak lagi istilah. Mengapa kita perlu tahu semua teori leadership ini, karena itulah yang banyak ditawarkan dan pada dasarnya sangat positif karena kita tinggal memilih mana yang terbaik sesuai kebutuhan.

    Persoalan leadership adalah persoalan kita semua dan persoalan banyak perusahaan, data menunjukan 40% Executive baru gagal di 18 bln pertama (CentfsgaESGer for Creative Leadership),   pemimpin yang direkrut dari luar perusahaan kemungkinan gagal dua kali lipat (Ciampa & Watkins), hanya 2% perusahaan yang mengatakan sangat berhasil dalam mengembangkan potensi kepemimpinan dari dalam (SIOP) ada lagi penelitian yang mengatakan sepertiga dari pemimpin gagal mencapai business goal (Bersin by Deloitte), memang kenyataannya kebanyakan professional karena tuntutan pekerjaan sering menjadi sangat baik secara teknikal, namun kurang memberi perhatian pada kemampuan soft skill yang memadai.

    Dari berbagai penelitian ditemukan bahwa kegagalan kepemimpinan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, kurangnya Leadership skill seperti  kemampuan untuk memfasilitasi perubahan, membangun team, meng “Coach” anggota team dan kurangnya interpersonal skill seperti membangun trust, membangun network dan rendahnya kemampuan komunikasi .

    Kembali kepada pertanyaan mengapa harus ada Pemimpin? bila kita masukan dalam konteks personal maupun bisnis, maka jawabannya adalah pasti karena ada tujuan yang hendak dicapai, tujuan bisa berupa target KPI ataupun target perubahan lainya, tujuanpun bisa dalam berbagai dimensi waktu, berarti esensinya adalah dibutuhkan kepemimpinan yang mampu mencapai tujuan dengan efektif bersama team dan menciptakan kepemimpinan baru untuk sustainability dimasa datang, karena itulah TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan ini,.

    SecarCSFaffa generik Transformational leadership memiliki 4 faktor yaitu : Idealized  influence, inspirational motivation, Intellectual stimulation dan individualized consideration,  bagaimana mudahnya ? Seorang pemimpin harus mempunyai visi yang jelas , target yang hendak diraih atau perubahan yang diinginkan, menjadikan dirinya sebagai role model, mampu berkomunikasi secara persuasif untuk menginspirasi dan memotivasi tim kerjanya, mampu secara kreatif dan inovatif mencari solusi terbaik seperti layaknya seorang entrepreneur tanpa kehilanganXz.Fgs gambaran besarnya dan mampu memberi perhatian untuk mengembangkan anak buah melalui Coaching yang efektif, apalagi semua itu dilakukan dengan MIND POWER seperti mampu mengendalikan kesadaran untuk memilih dan memutuskan untuk tetap fokus pada tujuan apapun hambatannya,  mampu mengendalikan emosi negative melalui kekuatan reframing dan mengarahkan energi positif pada tim kerjanya, mampu secara fleksibel menggunakan potensi kekuatan otak kiri dan kanannya secara seimbang sehingga mampu berpikir kreatif dan
    inovatif, memilih kata secara cermat yang memiliki kekuatan waking hypnosis, semua ini berangkat dari kekuatan diri sehingga menampilkan karisma yang menginfluence, bukankah ini yang diinginkan?

     

    Objective Program :

    Agar mampu menjadikan pemimpin sebagai role model, mampu berkomunikasi secara persuasif, mampu secara kreatif dan inovatif mencari solusi terbaik seperti layaknya seorang entrepreneur, mampu memberi perhatian untuk mengembangkan anak buah melalui Coaching yang efekti,  mampu mengendalikan emosi negative melalui kekuatan reframing, mampu mengarahkan energi positif pada tim kerjanya dan mampu secara fleksibel menggunakan potensi kekuatan otak kiri dan kanannya secara seimbang serta memiliki kekuatan waking hypnosis, sehingga menampilkan karisma yang menginfluence.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review
     
     
    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • OUTBOUNDUCATION

    Istilah Outbounducation belakangan ini banyak digunakan, yang berarti melakukan edukasi atau training yang dilakukan oleh seorang Educator atau trainer yang sangat kompeten secara technical atau soft skill, ditempat atau alam terbuka yang sangat menyegarkan untuk menyampaikan pesan perusahaan atau konten pembelajaran melalui berbaga isi mulasi atau games yang dipilih secara cermat atau diciptakan secara khusus untuk mampu mendeliver materi secara fun, mengentertaint namun sarat dengan insight dibalik setiap simulasi yang diberikan.

    sfasffApakah sama dengan Outbound, Outting ataupun Fun games? Sangat berbeda, pada Outbounducation titik beratnya adalah pada kualifikasi Trainer atau Educator yang sangat tinggi seperti pengalaman mengelola corporasi dan penguasaan materi, content, concept dan pembelajaran, untuk memudahkan peserta memahami dan mengakselerasi proses pembelajaran materi disampaikan dengan berbagai pilihan metode seperti Firewalk, Glass walk, Hypnosis, NLP, EFT, TFT, sedangkan Games atau simulasi hanyalah tools untuk mengoptimalkan pintu masuk melalui Visual, Auditory dan Kinestetik sehingga tercipta suasana interaktif, FUN dan berenergi positif, Semua games atau simulasi ini diciptakan, dirancang atau dipilih secara cermat untuk mampu menyampaikan fsaFakonten secara tepat. Contoh bagaimana menginstall Core values yang rumit dan sukar dihafal butir-butirnya, bias digunakan kombinasi teknik Hypnosis dan games Kinestetik anchoring yang diciptakan secara khusus sehinggasuasanatetap FUN berbeda dengan Classical training.

    Pengembangan sudaDafraqfmber daya manusia dalam perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, pemberian training hanyalah satu dari sekian banyak metoda untuk menutup gap kompetensi pada diri karyawan, kalaupun metode training ini dipilih training yang bagaimana yang mampu membawa perubahan yang efektif, tidak jarang pulang dari training peserta merasa kelelahan dan penat dengan berbagai materi yang diberikan, pada saat diterangkan nampaknya mudah dipahami, namun saat ditanyakan kembali apa isimateri yang dipelajari, sering sudah lupa atau sedikit yang diingat, pada saat mengikuti training sering peserta rajin terlihat mencatat materi yang disampaikan atau membuat coretan kecil dihand out yang diberikan, pikirnya nanti setelah training agar bias dipelajari kembali, namun kenyataannya setelah kembali kedalam lingkungan kerja, mereka sudah disibukkan dengan rutinitas dan tantangan pekerjaan yang lain, sehingga hand out training hanya menjadi pajangan dan teronggok dilemari. Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah provider training, peserta atau trainer yang membawakannya? Atau kombinasinya, atau mungkin perlu mencari konsep lain yang lebih baik, beberapa diantaranya seperti konsep adult learning atau experiential learning yang juga sudah banyak ditawarkan, memang benar menurut teorinya orang dewasa mampu belajar lebih cepat dengan mengalaminya sendiri, sehingga kemudian proses pembelajaran dimodifikasi dengan memberikan simulasi atau games yang bias dilakukan dikelas atau dialam terbuka, ini adalah upaya mencari jalan bagaimana memasukan pelajaran dalam suasana yang berbeda.

    dfFAktifitas Outbound tidak jarang dipilih untuk memberikan suasana baru, lepas dari suasana pekerjaan yang membelenggu, lepas dari pola – pola belajar yang sudah biasa, keluar dari zona nyaman dan berani melakukan pengalaman baru, banyak ragam kegiatan yang bias dilakukan, mulai dari yang low impact, hingga high rope activity, rafting, camping bahkan paint ball sering disebut sebagai bagian dari program outbound, konsep yang bagus ini awalnya berjalan baik namun saat ini nampaknya mengalami devaluasi makna, konsep outbound bergeser menjadi kumpulan fun games yang kemudian dicari –cari kaitannya dengan nilai pembelajaran, pada awalnya berangkat dari konsep training yang seharusnya dilakukan oleh seseorang trainer atau educator yang kompeten dan berpengalaman namun saat ini konsepnya mengalami pergeseran secara perlahan, bukan lagi dilakukan oleh seorang trainer atau educator, namun gameslah yang menjadi daya tarik dan daya tawar, apakah ini salah ? tentu tidak kalau memang tujuannya hanya sekedar fun game satau mengkait – kaitkan antara games dsaffdengan insight atau learning point ya sah-sah saja, karena memang saat ini istilah outbound sudah demikian rancu dengan fun games, tim building, flying fox, capacity building, atau experiential learning, semua kembali kepada tujuan perusahaan apa yang sebenarnya dicari dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
    Program training leadership dapat juga dilakukan melalui Outbounducation, dengan mengkombinasikan kegiatan in-door untuk memahami konsep melalui diskusi interaktif dan berbagai simulasi dan kombinasi Outdoor untuk mempraktekan semua pembelajaran yang didapat didalam kelas melalui berbagai games pilihan yang sesuai dengan konteksnya.

     

     

    Objective Program :

    Untuk menciptakan secara khusus suatu kegiatan pelatihan agar mampu mendeliver materi secara fun, mengentertaint namun sarat dengan insight dibalik setiap simulasi yang diberikan dengan berbagai pilihan metode seperti Firewalk, Glass walk, Hypnosis, NLP, EFT, TFT agar terlahirnya perubahan Mindset dan prilaku secara permanen.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review
     
     
    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Self Leadership With Personal Power

    Leader dan leadership adalah dua hal berbeda namun sangat erat berkaitan, sama seperti kata salesman dan salesmanship, kedua kata ini mengindikasikan dua hal, kata yang pertama adalah pelakunya dan kata yang kedua adalah karakteristik yang menjadi cirri pelakunya, seseorang yang sudah memiliki leadership tentu bias menjadi leader didalam kontek siapapun, apakah itu di level personal, social atau profesional, sehingga memiliki karakter leadership adalah hal pertama harusdiketahui dan dipelajari, kita percaya bahwa pada dasarnya semua orang adalah leader, meskipun belum mempunyai anak buah, minimal dia harus mampu memimpin dirinya sendiri dulu sebelum mampu memimpin orang lain, leader memang dapat dibentuk dan dikembangankan dan semuanya dimulai dengan mempelajari bagaimana menjadi pemimpin bagi diri dengan efektif atau biasa disebut Self leadership, Self impowerment,Personal power, Personal excellence, Professional effectiveness, atau istilah lain yang sejenis yang pada dasarnya adalah kemampuan untuk me “manage” dan me “lead” diri sendiri.

    Ada banyak pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan ini, dengan teknologi NLP (Neuro Linguistic Programming) dan berbagai teori kepemimpinan hal ini dapat dikombinasikan menjadi sebuah program pelatihan yang mampu menjawab tantangan bagaimana mentransform diri menjadi seorang pemimpin yang efektif, yang memiliki karakteristik: akuntabel artinya memiliki initiatif, proaktif untuk berani mengambil tanggung jawab, memiliki visi dan tujuan yang jelas, memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, memiliki fleksibilitas atau kemampuan untuk mencari solusi secara kreatif, mampu bertindak secara kongruen antara pikiran, perasaan dan perilaku, mampu memilih tujuan dan tindakan yang bermanfaat secara ekologis, mampu membangun rapport atau hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

    Perlu proses panjang dan bertahap untuk mampu menguasai berbagai skill penting ini, perjalanan menuju self leadership dapat dibagi menjadi tiga tahapan, tahap pertama adalah personal awareness, kemudian personal mastery dan puncaknya adalah personal power, bagaimana memahami hal ini dengan mudah? Bayangkan anda saat ini sedang berada dibelakang kemudi mobil, anda menyadari keberadaan anda, instrument didepan anda, seluruh bagian kendaraan yang anda kendarai, kemampuan dan keterbatasan yang ada pada kendaraan, anggaplah mesin sekarang sudah hidup, selanjutnya terserah kepada pengemudi mobil ini hendak dijalankan kearah mana, ada banyak pilihan didepan sana, jalan mana yang ingin ditempuh, hambatan apa yang bakal dihadapi, mana rute terbaik dan tercepat, berapa lama waktu tempuhnya, anda sebagai pengemudilah yang memilih dan memutuskan. Sama seperti diri kita, kesadaran diri atau self awareness ibaratnya pengemudi dan bagian tubuh kita ibaratnya adalah mobil yang hendak dikendarai.

    dADadTahap personal awareness adalah membangun kesadaran diri, artinya secara sadar mengenali dan mengendalikan kesadaran yang anda miliki dan memerintahkan otak melalui kata-kata yang anda pilih untuk melakukan suatu tindakan, sama seperti metaforik kendaraan, singkatnya adalah menyadari keber “ada” diri misalnya dalam kontek ssebagai professional, untuk meningkatkan kemampuan mengenali kesadaran diri ini, bias mulai dengan sebuah presuposisi, bahwa “Setiap orang mengendalikan otak dan pikirannya sendiri, sehingga ia bertanggung jawab terhadap hasilnya” kalimat sederhana ini bila diterima maka sebagai seorang professional perlu memahami bagaimana otak memproses informasi sehingga anda tahu bagaimana mengolah persepsi misalnya untuk mendapatkan makna professional yang sesungguhnya, bagaimana mengendalikan kesadaran dan mengarahkannya pada tujuan, bagaimana mengenali sumber daya yang ada dalam diri untuk dimobilisasi sepenuhnya mencapai tujuan, bagaimana mengendalikan pikiran agar tetap focus pada tujuan, tetap positif menghadapi hambatan, memacu otak untuk mampu berpikir kreatif dan inovatif untuk mencari solusi terbaik, bagaimana membuat tujuan yang diterima oleh pikiran dan diamini oleh hati, bagaimana memilih respon yang memberdayakan apapun situasi diluar sana karena tidak semua factor eksternal 100 persen ada dalam kendali kita, namun kita bias membuat bahwa proses didalam pikiran 100 persen ada dalam kendali diri sehingga apapun situasinya, kesadaran diri mampu memilih persepsi dan menghasilkan emosi yang ber “energipositif” , itu semua ada tahap personal awareness, yaitu kemampuan mengarahkan emosi, mengendalikan sumberdaya dalam diri dan keteguhan diri untuk mencapai tujuan.

    Tahap selanjutnya adalah personal mastery, yaitu bagaimana menjadi master dalam mem “manage” dan me “lead” diri sendiri, sama seperti metaforik mobil tadi, bagaimana anda dengan penuh percaya diri mampu menguasai mobil yang anda kendarai bermanuver dalam berbagai situasi dan kondisi jalan apapun yang dihadapi dan tetap focus untuk mencapai tujuan, dan tahap Personal Power adalah kemampuan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dengan menetapkan tujuan yang lebih menantang dan lebih besar impact nya, mampu menempatkan diri secara efektif pada berbagai peran yang berbeda-beda, mampu mengambil keputusan dari berbagai alternative pilihan yang kadang sangat sulit namun tetap harus dipilih dan diputuskan dengan mempertimbangkan manfaatnya secara ekologis dan etis.

     

    Objective Program :

    Agar mampu menjadikan pemimpin sebagai role model, mampu berkomunikasi secara persuasif, mampu secara kreatif dan inovatif mencari solusi terbaik seperti layaknya seorang entrepreneur, mampu memberi perhatian untuk mengembangkan anak buah melalui Coaching yang efekti,  mampu mengendalikan emosi negative melalui kekuatan reframing, mampu mengarahkan energi positif pada tim kerjanya dan mampu secara fleksibel menggunakan potensi kekuatan otak kiri dan kanannya secara seimbang serta memiliki kekuatan waking hypnosis, sehingga menampilkan karisma yang menginfluence.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review

    Request Preview           Request Presentation

     

  • Neuro Coaching

    Coaching, counseling, mentoring, facilitating, istilah yang sudah sering kita dengar dan sepertinya kita semua paham dengan maknanya, mungkin karena pernah melihat, mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri sehingga wajar bila kita terekspos dengan kata-kata itu, serasa kita merasa paham, dan itu memang benar, karena persepsi selalu benar tergantung pada batas pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki masing-masing orang.

    Bila hendak mencari tahu apa itu difinisi dari Coaching, mudah saja browsing di google dan kita akan mendapatkan begitu banyak jawaban, juga ada banyak buku dijual yang berhubungan dengan coaching, rasanya kalau hanya memuaskan rasa ingin tahu kita tentang arti coaching sangat mudah jalannya, jadi apa itu Coaching, Coach dan Coachee? Mari kita samakan persepsinya, Proses melakukan bimbingan, orang yang membimbing dan orang yang dibimbing, berarti ada dua pihak yang terlibat dalam sebuah proses pembimbingan, apakah ujungnya dari proses ini ? pasti ada hasil yang diharapkan atau ada tujuan yang hendak dicapai, sehingga sangat penting untuk mengetahui apa tujuan dilakukannya coaching, salah satu permasalahan yang sering muncul justru adalah sang Coachee sulit untuk merumuskan apa tujuan yang benar-benar paling diinginkan, dengan teknologi Neuro Coaching hal ini nanti bisa kita selesaikan dengan mudah dengan metode membentuk welform outcome (WFO).

    Coaching adalah bagian penting dari fungsi seorang leader untuk mencetak leader berikutnya, apapun difinisinya pada dasarnya Coaching adalah sebuah proses perubahan, proses belajar, proses menemukan dan mengali potensi diri sesuai konteks hasil yang diinginkan.  Mengapa coaching demikian pentingnya dalam fungsi leadership? Karena untuk mengakselerasi proses perubahan, mempercepat proses belajar, membangkitkan potensi diri,

    Pada proses Coaching yang sering terlupakan adalah Coachable moment, pada saat kapan coaching dilakukan, apakah hanya karena target tidak tercapai baru diberikan coaching? Kalau ini yang lebih sering dilakukan tidak heran persepsi terhadap coaching seringkali menjadi negatif, saat seseorang di panggil untuk coaching sudah gemetaran merasa sebagai tertuduh. Coaching bisa dilakukan sesuai momentunnya, misalnya mengubah seseorang dari good menjadi better, karena adanya gap kompetensi, karena adanya perubahan Culture atau values atau perubahan lainya sehingga Proses Coaching pada dasarnya bisa dilakukan setiap saat baik formal maupun informal.

    Bagaimana coaching dilakukan? ada banyak metode yang di tawarkan,  ada RESOLVE, STEER, GROW,  dan sederet akronim lainnya, namun bila ingin melakukan coaching untuk transformasi, metode GROW ini dapat dijadikan referensi, metode ini sangat simple namun powerful dan sejalan dengan model transformasi, pertama adalah coachee memahami apa tujuan atau Goal yang ingin dicapai, dan saat ini Realitas nya bagaimana? seberapa besar gap yang terjadi antara Goal dan Reality, setelah ini baru pikirkan Opsi atau pilihan apa saja yang tersedia untuk mencapai tujuan, bila sudah tersedia beberapa alternative pilihan, mana yang menurut Coachee opsi yang paling baik dilakukan untuk mencapai tujuan atau dengan kata lain Willingness atau kesediaan dan komitmen coachee melakukan opsi yang dipilih hingga mencapai tujuan.

    Untuk mengimplementasikan GROW model ini, sang Coach harus terlatih untuk mengajukan pertanyaan disetiap bagiannya dan mampu mendengarkan dengan cermat jawaban yang diberikan Coachee, kedengarannya mudah, memang mudah kalau tahu caranya, kebanyakan yang terjadi Coach justru yang lebih banyak bicara dan kalaupun mengajukan pertanyaan, malah membuat bingung coachee sehingga akhirnya sang coach lah yang menjawab pertanyaannya sendiri, alih-alih membimbing yang terjadi adalah menyuapi dan tanpa sadar memberi instruksi,

    Melalui pendekatan NEURO COACHING, proses melakukan Coaching menjadi lebih powerful dengan menggunakan kombinasi teknik bertanya yang simple namun tajam dalam kerangka Six Neurological Level yang sesuai. Apa itu SNL (Six Neuro Logical Level)? Siapapun kita, pasti ada dalam kerangka SNL, 6 level itu adalah : Environment, Behavior, Capabilities, Believed-Values, Identity dan Connectivity /Spirituality.

    UntitledBagaimana memahami konsep SNL, mari kita permudah; Anggaplah saat ini anda sedang membaca artikel di web PLC ini, didepan computer dalam ruangan ber AC,  ini adalah aspek lingkungan atau Environment,  saat anda membaca, sambil terus berpikir dan bertanya-tanya jadi apa bedanya Neuro Coaching dengan Coaching model lainnya sampai-sampai anda tidak menghiraukan dinginnya ruangan, atau anda mengabaikan suara-suara lain, itulah contoh bentuk Behavior / Perilaku anda pada lingkungan saat ini, anda dengan mudah memahami arti Neuro Coaching ini karena sebenarnya anda sudah pernah terlibat dalam proses coaching, mungkin pernah membaca teori tentang coaching atau pernah ikut seminarnya  dan memahami manfaatnya terlebih lagi dalam fungsi leadership, itulah Capabilitas level yang anda miliki, sebagai seorang professional dan leader anda yakin dan percaya bahwa mencetak leader baru, membimbing dan mengembangkan bawahan adalah harga mati yang harus dilakukan, inilah contoh level Believed dan Values anda pada konteks itu, andapun merasa bahwa anda adalah seorang profesional dan leader yang efektif karena mampu menjaga amanah atasan dan perusahaan dan dikenal sebagai leader yang visioner, kreatif mencari solusi dan tak henti mengembangkan diri dan orang lain untuk mencapai manfaat secara ekologis, inilah level Identitas, sebagai leader anda ingin dikenal sebagai apa? dan pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu Connectivity atau spiritualitas adalah “beyond self”, bahwa keberadaan  kita sebagai leaders sudah merupakan sebuah misi hidup sehingga tanpa lelah kita terus menebar manfaat bagi banyak orang dan masyarakat yang lebih luas.

    Berangkat dari pemahaman ini, maka dengan mudah peserta kita ajak untuk pandai membuat pertanyaan dan hemat pernyataan untuk membantu sang Coachee mengungkap potensi diri, karena sebagai Coach percaya bahwa sukses seorang coach adalah bila sang coachee mendapatkan pemahaman baru dan bersemangat melakukan perubahan untuk mencapai tujuan tanpa harus terus tergantung pada sang Coach, dan tanpa anda sadari saat ini anda telah mengalami sendiri apa itu NEURO-COACHING.

     

    Objective Program :

    untuk mengakselerasi proses perubahan, mempercepat proses belajar, membangkitkan potensi diri, dengan metode GROW  dan sejalan dengan model transformasi, dengan tujuan memahami Goal yang ingin dicapai dan Realitas, seberapa besar Gap yang terjadi antara Goal dan Reality, serta Opsi agar Willingness atau kesediaan dan komitmen coachee hingga tercapai tujuan.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review

    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Neuro Communication


    Makna komunikasi adalah respon yang didapat

    Kalimat ini terdengar sangat sederhana, terlihat sangat mudah meskipun demikian kekuatan makna dibaliknya terasa sangat kuat, bahkan mampu mengubah mindset kita dalam berkomunikasi, kebanyakan orang saat berkomunikasi bila tidak mendapatkan respon seperti yang diharapkan biasanya tanpa sadar malah menyalahkan orang lain, bahkan memberi label negatif terhadap orang lain seperti pembangkang, lemot (Lemah Otak) atau ungkapan lain yng merefleksikan  kekecewaan sang komunikator, apakah hal ini benar? Mungkin saja ya benar, ibaratnya menjual sebuah barang kepada seseorang yang tidak mempunyai daya beli. namun bagaimana bila kita berpikir dari perspektif lain, alih-alih menyalahkan orang lain bagaimana kalau kita mulai berpikir.

    Tidak ada pendengar yang resisten yang ada adalah komunikator yang kurang fleksibel

    bagaimana kalau kita mulai berpikir untuk menggunakan cara yang berbeda untuk mendapat hasil yang berbeda?

    “Semua manusia tidak bisa tidak berkomunikasi” bahkan diam sekalipun ada makna komunikasi, artinya pasti semua orang bisa berkomunikasi, pendengar atau siapapun orangnya pasti bisa diajak untuk berkomunikasi, namun bila yang terjadi komunikator SdaFtidak mendapat respon  seperti yang diinginkan maka ubah cara pendekatan komunikasinya, agar pesan dapat didengar dan sekaligus diterima  oleh sipendengar, terlebih lagi dalam peran sebagai leader maka aspek komunikasi ini menjadi sangat penting bukankah yang sering terjadi adalah pesan dimengerti namun hatinya tidak menerima, istilahnya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, yang disampaikan A yang didapat respon B, Neuro Communication skill  adalah salah satu cara berkomunikasi untuk mendapatkan respon seperti yang diinginkan.

    Manusia berhubungan dengan dunia  luar melalui panca indra: melihat, mendengar dan merasakan, sehingga setelah kurun waktu tertentu terbentuklah sebuah preferensi atau kecenderungan dalam memproses informasi, ada yang lebih cenderung dengan melihat atau Visual, ada yang dengan mendengar atau Auditory dan ada yang dengan merasakan atau melakukan, biasa disebut Kinestetik, anggaplah ini sebagai pintu masuk dalam komunikasi, apa jadinya bila tidak tepat menggunakan pintu masuk ini, ambil contoh seseorang dengan preferensi Visual namun komunikator masuk melalui pintu Auditori, tentu akan lebih efektif bila komunikator menggunakan pintu masuk yang sesuai dengan preferensi pendengar.

    Bagaimana mengetahui pintu masuk seseorang dalam memproses informasi, bagaimana bila situasinya classical atau public speaking? Inilah salah satu tantangan tahap awal dalam komunikasi, selain itu dasar komunikasi yang lain yang perlu diketahui adalah faktor trust, bagaimana sebagai komunikator dalam waktu singkat dapat diterima oleh pendengarnya? Mengambil prinsip “Body and Mind is one system” kita bisa mempelajari teknik Pacing-leading untuk me mirror secara elegan, bisa dari sikap tubuhnya, bisa dari gaya bahasa, bisa dari budaya, kesukaan, ketertarikan, bisa dari manapun, bagaimana bisa melakukan komunikasi dengan efektif bila diterima saja tidak, menarik bukan?

    ADEraWRQAwrMasih banyak teknik lain dalam Neuro Communication yang perlu dipelajari, bagaimana melakukan komunikasi yang persuasif? Penelitian Mehrabian menunjukan bahwa kekuatan kata-kata hanya kurang dari 10 % selebihnya adalah bahasa non verbal, sehingga efek kongruensi dalam berkomunikasi menjadi sangat penting, sebagai contoh seseorang mengucapkan kata “mari kita semangat”, namun bahasa tubuhnya, intonasi, gesture, mimic muka tidak mencerminkan kata –kata yang dipakai inilah contoh tidak kongruen, dan ini bertentangan dengan prinsip “Communicator is the message it self”.

    asfFQFRFFRBeberapa contoh diatas barulah mengupas sedikit persoalan dalam komunikasi seperti pintu masuk, masih banyak lagi hal lain yang bisa dipelajari untuk membuat seorang komunikator menjadi lebih fleksibel sehingga mampu berkomunikasi dengan siapapun dalam situasi apapun,   bagaimana cara pesan itu dikemas, dengan cara bagaimana pesan itu disampaikan dan dengan cara bagaimana isi pesan dapat diterima secara rasional dan emosional, Aristoteles seorang filsuf Yunani yang sangat terkenal menggunakan Triangle Principle dalam melakukan komunikasi yang persuasif, prinsip itu adalah: Ethos, Logos dan Pathos, yang artinya seorang komunikator harus mampu membangun Kredibilitas, Logis artinya kekuatan pesan dapat dicerna secara Rasional dan Pathos kekuatan pesan yang mampu menggerakan secara emosional, prinsip ini digabungkan dengan Six Principles of influence dari Prof. Robert Cialdini dan diperkaya dengan pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming) jadilah sebuah teknologi NEURO COMMUNICATION. Sehingga “Makna komunikasi adalah respond yang didapat” benar-benar dapat terwujud dan ampuh digunakan pada berbagai konteks baik itu personal, sosial maupun profesional.

     

    Objective Program :

    untuk membuat seorang komunikator menjadi lebih fleksibel sehingga mampu berkomunikasi dengan siapapun dalam situasi apapun, bagaimana isi pesan dapat diterima secara rasional dan emosional,   agar seorang komunikator harus mampu membangun Kredibilitas dan kekuatan pesan dapat dicerna secara Rasional serta kekuatan pesan yang mampu menggarakan secara emosional dengan pengabungan Six Principles of influence dan diperkaya dengan pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming)

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review

    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Creative Inovatif

    Mana yang harus lebih dulu, menjadi manager yang baik baru menjadi leader yang baik atau sebaliknya?

    Bila harus memilih salah satu:  menjadi Pemimpin yang baik atau menjadi pemimpin yang efektif? Bila semua jawaban adalah benar, apa pilihanmu?

    Sebagai professional, mana yang harus didahulukan?  Memiliki konfiden atau kompetensi?

    4Pertanyaan diatas merangsang segera orang untuk menjawab dan biasanya langsung memilih satu jawaban dan kemudian ikuti oleh argumennya, Saya pilih ini karena….begitu polanya, semua argumen yang dipakai itu pada dasarnya adalah pengetahuan yang sudah dimiliki, argumen juga bisa dari pengalaman yang dirubah menjadi pengetahuan, sehingga setiap orang memilih jawaban sesuai dengan persepsinya masing-masing, karena semua jawaban adalah benar sehingga muncul perdebatan yang tiada henti, Inilah contoh berpikir yang menegaskan bahwa persepsi selalu benar menurut dirinya sendiri.

    Pola pikir seperti ini biasa terjadi dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga orang terkondisi untuk harus selalu atau mendapat pembenaran oleh lingkungan atau dibenarkan oleh atasan,(bahasa negatifnya “takut disalahkan dan dimarahi atasan”) lambat laun pola ini semakin kuat hingga suatu saat karena lingkungan kompetisi yang berubah semakin cepat, membuat sulit keluar dari pola pikir yang sudah dizona nyaman ini untuk berpikir Kreatif dengan berani melawan kebiasaan, proses yang baku, pola, aturan atau ikut perintah, karena dasarnya adalah selalu ingin pembenaran sehingga takut salah. Bukankah ini salah satu faktor penghambat proses berpikir kreatif?

    5 “Being right” artinya adalah ingin selalu benar setiap saat, “being effective” artinya benar pada akhirnya, pada proses berpikir kreatif yang diutamakan adalah berani salah namun pada akhirnya harus benar, sebagai ilustrasi adalah penemuan lampu pijar, Thomas Alfa Edison harus melakukan percobaan ribuan kali sebelum menemukan yang benar. Dia tidak merasa melakukan kesalahan, namun belajar dari kegagalannya itu dan akhirnya menemukan yang benar dan hebatnya karena mindset nya benar dia bukan berpikir salah namun semakin bersemangat karena telah berhasil memisahkan yang salah dari yang mungkin benar, artinya setiap kali menemukan kesalahan dia berpikir pasti akan lebih cepat sampai pada hal yang benar. Istilah Penemuan, Kreatifitas dan Inovasi memang saling berkaitan erat, secara sederhana Penemuan berarti Menemukan hal baru yang sebelumnya sama sekali belum pernah ada, Kreatif berarti menemukan ide baru dari gabungan konsep yang sudah diketahui menjadi sesuatu hal baru yang belum terpikir sebelumnya, berarti Kreatif itu berada dalam tatanan Ide atau Pikiran. Sedangkan Inovasi adalah ide kreatif yang berhasil di implementasikan yang menghasilkan manfaat.

    Pada suatu kesempatan pelatihan disebuah perusahaan dengan peserta lebih dari 100 manager, semua peserta mengangkat tangan ketika ditanya “apakah semua peserta diruangan ini adalah seorang professional” ?, dan hanya sebagian yang mengangkat tangan ketika ditanya apakah semua peserta diruangan ini adalah Leader?, dan hanya 10 orang yang berani mengangkat tangan ketika saya tanya apakah semua orang diruangan ini adalah seorang yang kreatif?

    Leadership dan kreatif sangat erat hubungannya, tugas seorang leader adalah membawa perubahan kearah yang lebih baik dengan mencapai tujuan atau visi, dalam perjalanan mencapai tujuan pasti akan ada banyak tantangan, hambatan dan masalah, sehingga kemampuan berpikir kreatif dan inovatif menjadi sangat penting dan membedakan bagi seorang Transformational Leader.

    Mengapa banyak orang berpikir dirinya tidak kreatif atau kurang kreatif? atau sering argumennya kalau sudah kepepet baru kreatif, artinya sama saja sudah mampu berpikir kreatif hanya jarang digunakan, kenapa? coba renungkan, sepanjang perjalanan kehidupan kita pasti semuanya tidak akan mulus atau lancar-lancar saja, pasti banyak hambatan, masalah dan tantangan yang tiada henti, pasti suatu saat suatu ketika kita menemukan cara baru, ide baru untuk mengatasi semua tantangan itu dan berhasil memecahkan masalah, artinya tanpa kita sadari kita sudah berpikir kreatif,… hanya saja kebanyakan kita kurang berkesempatan untuk merenungkan dan menarik pelajaran dari semua peristiwa yang telah kita alami, singkatnya kita belum sempat menarik pembelajaran dan memformulakan bagaimana itu berpikir kreatif apalagi secara sadar belajar bagaimana meningkatkan kemampuan kita untuk berpikir lebih kreatif.

    6Berpikir kritis rasional dan berpikir kreatif atau divergen atau lateral sama pentingnya, jangan karena keadaan sehari-hari, pekerjaan dan lingkungan membuat kemampuan ini jarang digunakan, sama seperti tangan kanan dan kiri, meskipun kebanyakan aktifitas dilakukan oleh tangan kanan namun tidak berarti tangan kiri tidak ada peran, sehingga untuk berpikir kreatif tahap awalnya adalah membangun mindset bahwa saya adalah orang yang kreatif.

    7NLP ( Neuro Lingusitif Programming ) Bisa digunakan untuk mengakselerasi belajar berpikir kreatif, dalam istilah teknisnya mampu berpikir holistik dengan Chunk up, Chunk down dan Chunk side, semua kembali kepada bagaimana kita diajak memahami peran otak kiri dan kanan, kemudian belajar bagaimana mengendalikan kesadaran diri untuk kapan mengunakan otak kiri dan kapan otak kanan, belajar mengenali berbagai kondisi mental yang menghambat proses berpikir kreatif dan kondisi seperti apa yang optimal untuk memunculkan berpikir kreatif. Setelah memperbaiki mindset dan menguasai prinsip-prinsip berpikir kreatif, selebihnya hanyalah memilih tools yang tepat sebagai acuan untuk berpikir kreatif, dalam berbagai 8training kebanyakan yang ditawarkan hanyalah tools-tools ini seperti “Metode Lateral Thinking” seolah hanya itu tools untuk berpikir kreatif padahal kalau hanya bicara tools ada banyak diluar sana tool yang tersedia, semua tinggal dipilih sesuai konteksnya atau secara kreatif bahkan kita bisa menciptakan tools sendiri bagaimana memicu kreatifitas, sepanjang mindsetnya sudah benar dan memahami prinsip prinsip bagaimana otak bekerja memproses informasi dan mengarahkan pilihan sadar untuk mengoptimalkannya.

     

    Objective Program :

    Agar mampu berfikir secara holistik dengan Chunk up, Chunk down dan Chunk side dengan Konsep NLP (Neuro Lingusitif Programming) dan memahami peran otak kiri dan kanan, belajar bagaimana mengendalikan kesadararan, belajar mengenali berbagai kondisi mental yang menghambat proses berpikir kreatif dan kondisi seperti apa yang optimal untuk memunculkan berpikir kreatif.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review

    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Change Management

    Siapa yang tak kenal dengan arti Change atau perubahan? Semua kita pasti tahu, apalagi sekarang ajakan untuk melakukan perubahan semakin gencar, dimana-mana slogan perubahan semakin ramai dikumandangkan, mengapa orang sibuk bicara perubahan? Apa hanya karena adagium bahwa didunia ini tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri? Kalau perubahan sudah menjadi menu setiap orang dalam perjalanan hidupnya mengapa orang masih perlu diajak dan bahkan diajarkan untuk melakukan perubahan?

    Dua kata kata diatas menyiratkan dua kondisi, yaitu perubahan dan cara mengelolanya, soal pengelolaan itu urusan managerial, setiap manager pasti tahu apa yang harus dilakukan sejalan dengan fungsinya sebagai manager, kalau begitu bagaimana kalau kita fokus hanya pada kata yang pertama saja “ Perubahan”, karena ini adalah esensinya, apa yang hendak di kelola bila esensi atau konten perubahannya ti1dak ada? Ada banyak bentuk perubahan dari yang lambat hingga cepat, dari yang skala kecil hingga skala luas, sebut saja istilah Evolusi dan Revolusi, Reformasi dan Restorasi, ada satu istilah lagi yang juga sering dipakai, Transformasi, semua itu menyiratkan adanya sebuah proses perubahan, Transformasi berasal dari kata Trans dan Form, sama seperti transportasi, trans dan port, Transaksi, Trans dan aksi, Trans berkonotasi proses berpindah, bergerak, berubah dari satu titik ke titik yang baru, Pada Transformasi artinya berpindah dan form artinya format atau bentuk, sehingga berarti berpindah menjadi bentuk yang baru, bentuk sekarang ingin diubah menjadi bentuk baru yang lebih baik dan diinginkan. Kalau Kata Transformasi ini kita gabungkan dengan leadership akan menjadi lebih hebat lagi, artinya seorang leader yang mampu membawa tim nya untuk perubahan.

    Dalam organisasi atau perusahaan, ada banyak situasi yang mendorong dan bahkan menekan untuk terjadinya perubahan, bisa dari faktor extern2al seperti kondisi ekonomi, politik dan demografi yang berubah atau faktor kebutuhan internal seperti adanya penerapan teknologi baru, strategi baru atau karena adanya berubahan culture, dalam perubahan pasti menyangkut dua dimensi besar yaitu sisi teknis dan sisi people, bila kita ditanya mana yang paling sulit dari dua dimensi itu pasti jawabnya dari sisi People, memang benar dalam organisasi inilah tantangan terbesarnya, banyak transformasi diperusahaan gagal utamanya karena gagal mengajak para karyawan untuk berubah,  terjadi resistensi dalam perubahan, ataupun kalau ada perubahan terjadi sangat lambat dan sporadik, inilah alasan mengapa untuk menjadi seorang TRANSFORMATIONAL LEADER harus menguasai skill change management

    Padahal ada banyak teori, tools dan konsep yang tersedia untuk melakukan perubahan, sebut saja teori dari Kurt Lewin Change management, bisa juga menggunakan pendekatan McKinsey 7S, yang terkenal dengan Hard dan Soft faktornya, atau bisa juga dengan 8 Step Model nya John Kotter sang guru perubahan dan masih banyak lagi, diantara semua teori yang ada coba perhatikan tidak ada satupun yang secara spesifik menyebut perubahan MINDSET, dalam pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming) 3ada teknologi SIX NEUROLOGICAL LEVEL, yang bila di kombinasikan dengan konsep change management modern yang ada, akan dahsyat sekali efeknya. Secara empiris teknik ini telah dicobakan pada beberapa perusahaan dan bila rekomendasi dijalankan sepenuhnya hanya dalam dua tahun sudah terasa efek perubahannya, mengapa harus dua tahun koq lama sekali? Begitu pertanyaan yang sering muncul atau bahkan ada yang terheran-heran koq cepat sekali biasanya paling cepat 5 tahun baru ada impact seperti yang diinginkan, semua bisa ya bisa juga tidak, coba bayangkan sekarang kita hendak pergi ketempat yang jauh dengan mengendarai mobil, cepat atau lambatnya tiba ditujuan tergantung apa dan siapa? Kalau sopirnya handal dan teknologi mobil nya sangat mendukung, mungkinkah kita bisa sampai ditempat tujuan sesuai waktu yang diinginkan?  Memang perusahaan bukan se simple mobil, namun fakta empirisnya bila di lakukan oleh seorang Transformational Leader dengan menggunakan teknologi Mind Power dan mengimplementasi fungsi change management dengan benar, apalagi yang bisa menghambat leader untuk mencapai tujuannya? Bukankah ini yang diinginkan perusahaan?

    Bila ingin merubah seseorang, rubah perilakunya maka akan terjadi perubahan sesaat, namun bila ingin merubah perilaku menetap dan jangka panjang, rubah MINDSET nya, tantangannya sekarang bagaimana merubah mindset? Bukankah merubah perilaku itu sulit, berubah sebentar kemudian kembali lagi keperilaku lama, bagaimana kalau kita kombinasikan dengan system, maksudnya begini, Mindset dirubah dengan teknologi mindpower, sehingga jelas sekali apa yang ingin dicapai dan dalam dadanya menggelora untuk segera take action, perubahan perilaku pasti terjadi, pada level personal, system yang dipakai adalah “Body, mind and spirit is one system”, dengan teknologi Six Neurological Level di install sebuah tujuan yang sangat ekologis, pada level perusahaan system yang dimaksud bisa apa saja termasuk Sistem Human Resources. Sehingga ajakan perubahan bisa diterima pikiran dan diamini oleh hati, setelah itu dipertahankan dengan system sehingga terbentuk perilaku baru yang sesuai dengan kebutuhan perubahan. Seperti kata Einstein adalah kegilaan besar mencapai tujuan baru dengan cara lama, artinya harus ada perilaku baru yang sesuai dengan kebutuhan perubahan, singkatnya membangun perilaku baru dengan mengubah Mindset dan dipertahankan oleh system.

    Kita semua adalah pelaku perubahan, kita adalah transformer, banyak sekali perubahan yang terjadi sepanjang kehidupan kita, sebut saja berubah dari masa kanak kemasa dewasa dan kemasa orang tua, banyak orang sukses melakukan transformasi dari masa kanak ke masa dewasa, namun tidak semua orang dewasa sukses ber transformasi ke masa orang tua, yang banyak terjadi adalah, orang dewasa yang berusia tua, mengapa demikian?, karena banyak orang meskipun pernah mengalami namun belum tentu berkesempatan untuk merenungkan dan memformulakan bagaimana melakukan proses transformasi yang efektif, apalagi secara sadar dan sengaja mempelajari teknologi perubahan yang terbaru, namun sekarang sudah ada harapan baru untuk melakukan perubahan dengan nyaman dan menyenangkan, tunggu apalagi?

    Objective Program :
    Perubahan tidak hanya pada level perusahaan system termasuk Sistem Human Resources tetapi juga perubahan perilaku harus terjadi pada level personal, system yang dipakai adalah “Body, mind and spirit is one system”, dengan teknologi Six Neurological Level di install sebuah tujuan yang sangat ekologis, sehingga terbentuk perilaku baru yang sesuai dengan kebutuhan perubahan. Singkatnya membangun perilaku baru dengan mengubah Mindset dan dipertahankan oleh system.

    Durasi Training :
    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review

    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Transformational Leadership With Glass Walked

    011Kalau dipikir secara rasional nampaknya sangat tidak mungkin orang mampu berjalan di atas pecahan beling botol tanpa terluka, memang begitulah logika kita berjalan sesuai dengan pengetahuan yang diketahui, namun faktanya kami melakukan GLASS WALKED ini berkali-kali dengan aman, bagaimana mungkin ? 022Apakah peserta diajari mantra tertentu, ataukah dilakukan ritual tertentu seperti debus? TIDAK sama sekali, kami melakukannya dengan metode ilmiah artinya benar-benar menggunakan pengetahuan bagaimana otak bekerja, membangun MIND POWER dan rasa percaya diri, serta menginstall diri dengan affirmasi positif. 033Glass walked sering kami pilih untuk indoor TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP training, Glass walked bukan untuk menguji kekuatan manusia melawan pecahan botol, namun sebagai simulasi pengarahan kekuatan pikiran untuk mencapai tujuan karena kuatnya alasan untuk mencapai tujuan sehingga hambatan apapun mampu dilampaui dengan penuh semangat dan percaya diri. Persoalan banyak orang adalah ketidak mampuan untuk merumuskan apa yang paling benar-benar diDSC_0316inginkan sehingga otak mau mengerahkan semua sumber daya dalam diri untuk mewujudkannya, persoalan lainnya adalah terfiksasi pada believed yang membatasi seperti rasa takut bertindak, berhenti mencari jawab atas ketidak tahuan, dan trauma masa lalu yang mengendalikan hidup kita kedepan, Glass walked ini adalah simulasi kehidupan kita sehari-hari, dijamin aman bila dilakukan sesuai PROSEDUR, banyak orang telah berhasil melakukan glass walked dengan aman. “Apabila orang lain bisa melakukan sesuatu, maka kita juga bisa belajar melakukannya asal syarat dan kondisinya sama”

     

    Objective Program :

    Agar kita dapat merumuskan apa yang paling benar-benar diinginkan sehingga otak mau mengerahkan semua sumber daya dalam diri untuk mewujudkannya dan juga agarkita dapat untuk terfiksasi pada believed yang membatasi seperti rasa takut bertindak, berhenti mencari jawab atas ketidak tahuan.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review
     
     

    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Transformational Leadership With Hypnosis

    Kebanyakan orang berpersepsi negatif bila mendengar kata Hipnotis, hal ini dapat dipahami karena  hampir kebanyakan informasi seputar Hipnotis adalah negatif, seperti orang kena gendam, jam tangan atau isi dompetnya dikuras orang dengan hipnotis, orang tertipu karena hipnotis, belum lagi ditelevisi muncul berbagai tayangan orang dengan begitu mudahnya di hipnotis kemudian keluar semua pengakuan selucu-lucu dan sekonyol-konyolnya  menjadi bahan tertawaan, namun benarkah Hipnotis seperti itu?

    k (103)Mengapa semua informasi seputar hipnotis kebanyakan berisi efek negatif, mengapa tidak sebaliknya atau mengapa seseorang tidak berusaha untuk mencari informasi untuk mendapatkan kebenaran? Mengapa hanya menerima atau menelan mentah-mentah dan percaya begitu saja bahwa hipnotis itu negatif? jangan-jangan kebanyakan orang lebih mudah terhipnosis dengan berita yang negatif atau jangan-jangan lingkungan ini untuk kepentingan pragmatis tertentu lebih suka mengkondisikan dengan informasi atau pemberitaan yang negatif? dan tanpa disadari banyak orang terhipnosis terpengaruh dan percaya.

    005Hipnotis dan hipnosis adalah dua hal yang berbeda, Hipnotis seperti halnya pianis atau gitaris adalah orang yang melakukannya, sedangkan proses dan peristiwanya adalah hipnosis, yang berarti masuk kebawah sadar.  Ilmu Hipnosis sama seperti  ilmu lainnya pada dasarnya adalah netral, ambil contoh, ilmu kimia, bisa menjadi obat yang bermanfaat, atau menjadi bom penghancur, Ilmu kedokteran sangat bermanfaat menyelamatkan kehidupan atau menyembuhkan penyakit namun bisa juga terjadi malpraktek seperti aborsi illegal atau jual beli organ tubuh secara illegal, artinya semua tergantung pada siapa orang yang menggunakann006ya.

    Kalau kita perhatikan bahwa tujuan orang belajar pada akhirnya  adalah memasukan pesan atau pengetahuan  atau ketrampilan baru  ke bawah sadar,  untuk bisa sampai ke tahap ini memang melewati tahap-tahap belajar sebelumnya, sama layaknya seperti orang sedang belajar mengendarai mobil, awalnya pasti terseok-seok, tertatih-tatih, serempet sana serempet sini, begitulah umumnya proses belajar pada awalnya sulit sebelum menjadi mudah, atau istilahnya karena masih pada tahap sadar kalau masih belum kompeten, namun setelah menjalani prosesnya beberapa lama, kini seseorang bisa mengendarai mobil dengan lancar bahkan bisa sambil bertelepon, sudah tidak perlu mikir secara sadar lagi untuk mengoperasikan instrument mobilnya, semua sudah  menjadi operational ekselen, sudah terbiasa, sudah otomatis, sudah kompeten tanpa disadari.

    Bila demikian, bagaimana bila kita gunakan teknik hipnosis ini untuk mempercepat atau mengakselerasi proses pembelajaran apakah mungkin?, sangat mungkin, bila memahami prinsip-prinsipnya dan sudah terlatih melakukannya. Itulah salah satu manfaat positif dari Hipnosis, manfaat lain masih banyak lagi, seperti bisa untuk menghilangkan emosi negatif, kondisi trauma masa lalu, membentuk perilaku baru dengan menanamkan values, merubah atau memperkuat mindset, meningkatkan daya ingat.

    Banyak cara orang untuk mempelajari ilmu hipnosis ini, yang kami gunakan adalah pendekatan western hypnosis, maksudnya adalah hipnosis yang dipelajari secara ilmiah medis, karena memang pioneer-pioner dunia hipnosis berangkat dari kalangan medis mulai diabad pertengahan hingga modern kini. Salah satu nya adalah dengan mempelajari berbagai gelombang otak dengan menggunakan alat EEG (Electro Enchepalo Grafh) yang biasa digunakan para dokter ahli syaraf atau Neurologist untuk mengetahui fungsi otak pasiennya, di Amerika sejak tahun 1958 American Medical Association telah mengakui bahwa metode hypnosis adalah sebagai salah satu alat terapetik yang sah.

    Bahkan saat ini sudah lebih berkembang lagi dengan teknik Waking hypnosis, artinya melakukan hipnosis dalam keadaan sadar atau terbangun sadar sepenuhnya, hanya dengan menggunakan pola bahasa, pola kalimat dan pola komunikasi yang sangat canggih sehingga informasi dapat masuk ke bawah sadar tanpa disadari, istilahnya adalah Ericksonian, pada sesi TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP training biasanya kami gunakan teknik hipnosis untuk menginstall pesan atau values atau apa saja yang positif untuk membantu mempercepat proses transformasi diperusahaan, dilakukan dengan sangat aman dan tidak bertentangan dengan keyakinan agama manapun, sama seperti ilmu kedokteran atau ilmu lainnya bila digunakan oleh orang yang kompeten dengan sikap dan niat yang  positif pasti akan membawa manfaat untuk kepentingan bersama secara ekologis.

    Objective Program :

    Agar memahami teknik hipnosis untuk mempercepat atau mengakselerasi proses pembelajaran, untuk menghilangkan emosi negatif, kondisi trauma masa lalu, membentuk perilaku baru dengan menanamkan values dan merubah atau memperkuat mindset serta meningkatkan daya ingat.

    Durasi Training :

    2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review
     
     
    Request Preview           Request Presentation

     

    For More Information

    Joe Mustafa (Zulfikar)

    [email protected]

    Hp : (+62) 8118455725

  • Public Training